Mengenal Badai Sitokin, Gejala dan Dampaknya

  • Bagikan

Mediumindonesia.com Jakarta – Masyarakat internet baru-baru ini digemparkan dengan fenomena Badai Sitokin. Salah satu sumber ramainya perbincangan ini adalah podcast Deddy Corbuzier yang ditayangkan di kanal youtube pribadinya yang menceritakan tentang pengalamannya mengalami Badai Sitokin.

Badai Sitokin pada dasarnya merupakan sindrom yang bisa menjangkit penderita Covid-19. Sindrom ini biasanya menyerang sistem pernapasan hingga menyebabkan kompilasi, bahkan berpotensi mengakibatkan kematian pada penderitanya.

Dikutip dari KOMPAS.com, Badai Sitokin mengacu pada kondisi medis akibat produksi inflamasi yang terlalu banyak oleh sistem kekebalan.

Selain Badai Sitokin, reaksi ini juga memiliki sebutan CRS dan Sindrom Pelepasan Sinokin.

Kondisi ini memiliki beberapa gejala. Bahkan tak jarang terdapat gejala yang berbeda di setiap penderita, dari gejala ringan hingga yang mengancam.

Baca Juga:   Komitmen Divif 3 Kostrad Perangi Narkoba Di Tengah Pandemi Covid-19

Demam dan menggigil, kelelahan, pembengkakan ekstremitas, mual dan muntah, nyeri otot dan persendian, sakit kepala, ruam, batuk, sesak napas, napas cepat, kejang, kesulitan mengkoordinasikan gerakan, kebingungan dan halunisasi, kelesuan dan daya tanggap yang buruk, tekanan darah yang sangat rendah dan peningkatan pembekuan darah merupakan gejala-gejala dari Badai Sitokin.

Saat ini penyebab Badai Sitokin masih didalami oleh para ilmuan. Namun mereka menduga bahwa penyebab terjadinya sindrom ini kembali pada sistem kekebalan tubuh manusia.

“Biasanya, sitokin bekerja untuk membantu tubuh kita dalam jumlah sedang. Namun pada kondisi tertentu, di mana jumlahnya menjadi terlalu banyak, sistem kekebalan malah menyebabkan kerusakan pada tubuh pasien,” papar profesor di divisi penyakit menular di University of Cincinnati College of Medicine, Carl Fichtenbaum, dikutip dari detikHealth, Senin, 23 Agustus 2021.

Baca Juga:   Komunikasi Sosial dan Sinergitas Forkompimda Kunci Penanganan Pandemi Covid-19

Pada pasien Covid-19, Badai Sitokin akan memberikan efek demam dan sesak napas yang memicu terjadinya kompilasi, yang biasanya muncul setelah 6 hingga 7 hari pasca konfirmasi positif Covid.

Sementara bagi mereka yang memiliki sindrom autoimun tertentu, kondisi ini diberi nama “sindrom aktivasi makrofag” dengan risiko yang lebih tinggi.

Hal utama yang harus dilakukan jika mengalami gejala Badai Sitokin yakni perawatan intensif dari unit.perawatan.

Demikian Badai Sitokin yang harus mendapatkan perhatian khusu

  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks