Ikla DPRD

Ketua KPK Soal Nurdin Abdullah : Korupsi Adalah Pertemuan Antara Kekuasaan Dan Kesempatan

  • Bagikan
Ketua KPK Firli Bahuri Saat Konferensi Pers OTT yang melibatkan Gubernur Sul-Sel

Mediumindonesia.com – Operasi Tangkap Tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyeret Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah serta 5 orang lainnya menambah daftar panjang pejabat publik yang terjerat pusaran korupsi.

Nurdin Abdullah yang pernah menjabat sebagai Bupati Bantaeng dikenal sebagai sosok yang baik dan berintegritas, tak ayal pada tahun 2017, dirinya dianugrahi Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA).

Hal tersebut membuat namanya kian melambung ke tingkat nasional, terlebih sosoknya memang dikenal sebagai tokoh akademisi yang mampu membawa perubahan pada daerah yang dipimpinnya kala itu.

Pada 2018, Professor Andalan yang jadi taglinenya ikut dalam kontestasi pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan berpasangan dengan Andi Sudirman Sulaiman yang merupakan adik kandung mantan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di periode pertama pemerintahan presiden Joko Widodo, yang akhirnya berhasil mengantarnya ke tahta orang nomor satu di Sulawesi Selatan.

Baca Juga:   Polisi Amankan Pengedar Narkoba

Alih-alih dianggap akan lebih memajukan daerah dengan kekuasaan yang dimiliki, ditengah jalan kepemimpinannya, Professor Andalan kini menjadi tahanan KPK karena diduga terlibat kasus suap proyek infrastruktur yang dilakukan oleh seorang kontraktor sekaligus pengusaha asal Bulukumba.

Dalam konferensi pers KPK, terlihat ada 3 orang yang memakai rompi orange, salah satunya adalah Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah.

Ketua KPK, Firli Bahuri menjelaskan bahwa korupsi terjadi karena adanya kesempatan. Firli juga menuturkan beberapa faktor lain yang memicu korupsi terjadi.

Baca juga : Rompi Orange Nurdin Abdullah Jadi Kado Untuk Ayah Dan Keluarga Kami

“Korupsi itu sebabkan karena ada kesempatan. Korupsi terjadi karena keserakahan, ada kebutuhan. Dan yang paling penting lagi adalah jangan berpikir bahwa setiap orang yang sudah menerima penghargaan tidak akan melakukan korupsi. Kenapa? karena korupsi adalah pertemuan antara kekuasaan dan kesempatan, serta minusnya integritas,” jelas Firli

Baca Juga:   Anak Dibawa Umur Diciduk Polisi, Diduga Terlibat Aksi Curanmor

Firli menyebutkan ada 30 jenis korupsi yang bisa menjerat pejabat negara, sehingga Firli meminta kepada pejabat publik untuk menjalankan amanat rakyat.

“Hal yang paling penting adalah bagaimana penyelenggara tetap komitmen untuk tidak melakukan korupsi dan dia terus membangun, menjaga serta memelihara amanah rakyat, integritasnya. Karena pemberantasan korupsi tak hanya pidana tapi kita juga melakukan pendidikan masyarakat. Supaya meningkatkan integritas para penyelenggara negara aparatur pemerintah, supaya integritas meningkat sehingga tindak korupsi,” terangnya.

  • Bagikan