Rompi Orange Nurdin Abdullah Jadi Kado Untuk Ayah Dan Keluarga Kami

  • Bagikan
Seorang gadis menghadang mobil ambulance satgas covid-19 (kiri), Gubernur Nurdin Abdullah memakai rompi orange di ruang konferensi pers KPK (kanan).

Bulukumba, mediumindonesia.com – Masih ingat gadis muda yang pernah menghadang mobil ambulance gugus tugas covid-19 yang membawa jenazah almarhumah ibunya dari rumah sakit Bayangkara menuju pekuburan massal Macanda, dengan menaiki kap depan mobil sambil menangis histeris? Ya, dia adalah Andi Arni Esa Putri Abram, putri sulung dari Andi Baso Ryadi Mappasulle.

Kejadian yang terjadi pertengahan tahun 2020 sempat viral bahkan mendapat perhatian nasional dan diliput oleh media dan televisi nasional. Meski bukan hanya keluarganya saja yang mengalami hal serupa, tapi anak ini mampu memperlihatkan kepada masyarakat Sulsel betapa kebijakan pemerintah Provinsi pada saat itu, tidaklah sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

Almarhumah Nurhayani Abram, ibu dari Andi Esa ini divonis PDP virus covid-19, meski hasil diagnosa dari rumah sakit menyatakan bahwa almarhumah negatif covid-19.

Perjuangan Keluarga

Hal ini memicu kemarahan keluarga, pasalnya suami dari almarhumah, Andi Baso Ryadi Mappasulle menginginkan pemakaman istrinya dilakukan di pekuburan keluarga yang berada di Kabupaten Bulukumba, dan itu sudah seharusnya karena memang jenazah istrinya terkonfirmasi negatif covid-19.

Namun keinginan itu harus dikubur dalam-dalam, karena menjadi korban keganasan kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Meski demikian, Andi Adi sapaan akrab Andi Baso, terus melakukan langkah-langkah yang sekiranya mampu mewujudkan keinginannya itu.

Baca Juga:   Nurdin Abdullah Paparkan Program Strategis yang Akan Sentuh Bantaeng Tahun Ini

Rapat Dengar Pendapat (RDP) pernah dilakukan di kantor DPRD Provinsi Sulsel, hasilnya banyak yang mendukung pihak keluarga almarhumah, pasalnya bukti-bukti yang dibawa tidak satupun yang mengharuskan untuk jenazah istrinya dimakamkan di perkuburan massal Macanda, terlebih seluruh stakeholder Pemerintah Kabupaten Bulukumba tidak menolak niat dikuburkannya almarhumah di Bulukumba, sekalipun sebenarnya itu tidak diperlukan karena kembali lagi jenazah almarhumah negatif covid-19.

Andi Baso beserta putri-putrinya pernah meminta langsung kepada pemangku kekuasaan di Sulawesi Selatan sekaligus ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Provinsi tersebut tepat dihadapannya, di teras gedung DPRD Provinsi Sulsel terkait pemindahan kuburan jenazah almarhumah, namun jawaban dari Sang Professor andalan julukan Gubernur Nurdin Abdullah tak seperti yang diharapkan.

Sang Professor malah balik menjawab dengan nada yang tidak sepantasnya pihak keluarga terima, merasa dirinya disudutkan atas segala pemberitaan yang dilakukan keluarga Andi Baso, dan surat menyurat sebagai langkah perwujudan keinginannya, dianggap memberi citra buruk kepada dirinya. Sang Professor takut jika keinginan Andi Baso diwujudkan, maka gelombang protes dari keluarga yang turut dikuburkan di Macanda akan terjadi, tentu ini menambah kecurigaan akan buruknya implementasi kebijakan.

Baca Juga:   A. Utta Minta Seluruh Pejabat Aktifkan HP 24 Jam

Almarhumah Dan Masyarakat Pulau Kodingareng

Setahun berlalu, kelakuan Pemerintah Sulsel masih membekas. Segala macam cara telah dilakukan untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan, mulai dari cara yang kooperatif hingga mengalir bantuan dari mahasiswa dan keluarga serta masyarakat Bulukumba yang merasa simpati atas ketidak adilan ini.

Terlebih pada saat yang sama memperjuangkan pemindahan jenazah almarhumah, tampak ratusan masyarakat pulau Kodingareng yang juga melakukan aksi protes terkait penambangan pasir yang mereka anggap merugikan masyarakat pesisir karena harus melaut lebih jauh lagi dari daratan. Mereka mengiginkan Sang Professor hadir di depan mereka untuk mendengar aspirasi, uang diharapkan akan mengubah kekhawatiran mereka menjadi sebuah asa, akan tetapi sama saja dengan yang keluarga almarhumah dapatkan. Membekas diingatan, ratusan orang ini dibubarkan oleh petugas kepolisian dengan cara yang tidak sepantasnya mereka dapatkan. Pantas saja masyarkat pulau Kodingareng merasa bahagia mendengar kabar penangkapan Nurdin Abdullah, sang Profesor andalan.

Baca Juga:   Dinas PPKB Lakukan Pendataan, Danny Pomanto : Warga Tolong Beri Data Akurat

Ulang Tahun Andi Baso Ke-47

Perjuangan itu tetap berlanjut, kendati dengan jalan berbeda. Tidak lagi sama dengan jalan sebelumnya untuk mewujudkan niatan keluarga, akan tetapi dengan doa yang dipasrahkan kepada yang Maha Kuasa atas kedzaliman yang dirasakan.

Kaget, marah sekaligus kecewa bercampur aduk seketika melihat orang nomor satu di Sulawesi Selatan masuk ke ruang konferensi pers KPK dengan memakai rompi orange.

Iya betul, ada tiga orang yang masuk dalam ruang konferensi pers KPK, diantaranya terlihat jelas sang Profesor andalan memakai jeans biru layaknya pesakitan tahanan KPK. Malam itu adalah ulang tahun ayah dari Andi Esa, menjadi kado manis untuk sang ayah dan keluarga melihat penetapan status tersangka yang disematkan kepada Nurdin Abdullah.

Terlihat subjektif, namun sebagai masyarakat Sulsel yang pernah bergelut memperjuangkan keadilan, tahu betul rasanya berada di posisi melawan dan mengiba kepada pemilik kekuasaan.

Jauh berjalan dalam kegelapan, menikmati hening sehingga merasa tak ada yang menganggu ketentramanmu, saatnya kau kembali, Tuhan masih mengasihimu.

  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks