Gelontorkan Rp. 200 Miliar, PT. Mitra Hijau Asia Inventasi Bangun Pabrik Pengelolaan Limbah B3 Di Barru

  • Bagikan
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 KLHK saat meresmikan peletakan batu pertama pabrik PT Mitra Hijau Asia di Barru

Barru, Mediumindinesia.com – PT Mitra Hijau Asia gelontorkan investasi kurang lebih Rp. 200 miliar untuk pembangunan tempat pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Kabupaten Barru.

Proyek yang berdiri di atas lahan seluas 42 hektare ini akan menjadi yang pertama di Indonesia Timur. Keberadaan pabrik ini akan sangat berkontribusi terhadap swasta dalam hal ini industri dan juga pemerintah.

Untuk diketahui, salah satu masalah besar saat ini adalah tingginya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk penanganan limbah industri atau limbah medis rumah sakit.

Biaya tersebut terutama mencakup biaya transportasi dimana semua limbah harus dikirim dan dimusnahkan di Jawa.

“Dengan adanya tempat pengelolaan limbah B3 yang dibangun PT Mitra Hijau Asia ini, industri dan rumah sakit di kawasan Timur khususnya akan lebih efisien. Ini adalah proyek penting yang sangat membantu pemerintah dalam penanganan limbah B3 yang selama ini masih menjadi beban industri dan rumah sakit,” kata Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 KLHK saat meresmikan peletakan batu pertama pabrik PT Mitra Hijau Asia di Barru, 20 Februari 2021.

Baca Juga:   Komitmen Divif 3 Kostrad Perangi Narkoba Di Tengah Pandemi Covid-19

Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, investasi PT Mitra Hijau Asia sebagai sebuah investasi langka. Karena, di antara 12 ribu industri yang menyesaki Indonesia, hanya 20 Industri saja yang bergerak di bidang Pengelolaan Sampah, Limbah.

“Saya percaya perusahaan ini akan bergerak secara profesional dan beroperasi sesuai arahan dan pengawasan pemerintah,” kata Vivien.

Direktur utama PT Mitra Hijau Asia, Riory Rivandy Ilyas mengatakan, PT Mitra Hijau Asia telah berkontribusi selama 7 tahun dengan komitmen kuat membantu pemerintah menyelamatkan lingkungan dengan motto “protect the environment”.

“Total investasi di pembangunan ini kurang lebih Rp 200 miliar dan dibangun di atas lahan seluas 42 hektare,” kata Riory.
Riory menambahkan, PT Mitra Hijau Asia didirikan pada tahun 2014 atas dorongan Ibu Dirjen Rosa Vivien Ratnawati. Semangatnya adalah bahwa perlu membantu pemerintah dengan membangun pengelolaan limbah B3, karena seharusnya limbah B3 dari Sulawesi Selatan tidak di kirim ke Pulau Jawa untuk dimusnahkan.
“Sejak itu kami mencanangkan pembangunan pengelolan limbah B3 dan hari ini dapat terwujud. Sebagai tahap pertama yaitu pembangunan insenerator sebanyak 2 unit dengan kapasitas 12 ton/hari untuk limbah medis dan limbah industri serta pengumpulan 193 jenis limbah B3 pada luas lahan 2,3 ha,” tambahnya.
Untuk tahap kedua, PT Mitra Hijau Asia akan mengembangkan pemanfaatan limbah B3 menjadi bata merah dan bata putih serta pengelolaan oli bekas. Dan pada tahap ketiga akan di kembangkan landfill dengan luas 39,7 ha sehingga luas seluruhnya mencapai 42 ha dengan investasi sedikitnya mencapai 150 – 200 milyard rupiah.
“Perlu kami laporkan bahwa bisnis kami selama ini adalah pengangkutan/transportasi limbah B3 sejak tahun 2014, dengan jumah armada truk dan mobil box sebanyak 62 unit dengan kantor cabang di 16 propinsi masing-masing di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, NTT serta Surabaya dan Jakarta,” jelas Riory.
Riory menegaskan bahwa yang paling sulit sejauh ini adalah pengangkutan dari pulau-pulau terluar seperti Pulau Saumlaki yang berbatasan dengan Australia dan Pulau Wetar yang berbatasan dengan Timor Timur. Dimana trasporter bahkan perlu mencarter kapal khusus mengangkut truk paling sedikit 2 hari baru ke Ambon, untuk selanjutnya dari Ambon ke makassar, Makassar ke Surabaya/Jakarta. sehingga seluruhnya dibutuhkan waktu 14 hari.
“Sebenarnya lebih dekat ke General Santos Filipina di banding Ke Manado yang bukan hanya sulit dijangkau juga menunggu cuaca bagus serta kedatangan kapal, pernah sampai 21 hari dibutuhkan untuk mengangkut satu kontainer. Hal yang sama juga dengan Nunukan yang berbatasan dengan Malaysia atau bahkan kabupaten Sekadau Kalimantan Barat yang jaraknya hanya 200 meter dari Malaysia,” tambah Rio
Demikian halnya dengan Pulau Tahuna yang berbatasan dengan Filipina, ditempuh dengan kapal selama 2 hari dari Manado. “Dengan adanya tempat pengelolaan limbah B3 di Barru, tentu akan berdampak terhadap efisiensi industri dan rumah sakit khususnya di Kawasan Timur Indonesia,” pungkasnya.
Selain pemusnahan limbah B3, Perusahaan ini juga akan mengelola limbah industri spesifik yang akan menghasilkan produk seperti batako dan batu merah. Produk hasil olahan ini nantinya akan dikontribusikan pada masyarakat di Barru dan sekitarnya sebagai bentuk CSR perusahaan. (**Ak)

Baca Juga:   Kunjungi Madrasah 1 Palu, Alumni AKPOL 1999 Polda Sulteng Merenovasi Masjid
  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks