DRESSCODE (Catatan Harian Jumat)

  • Bagikan

Oleh: Dr. Muhammad Akil Musi (Dosen UNM/ Muballig)

Seminggu terakhir, rompi warna orange atau bisa disebut jingga jadi trending topic pasca OTT seorang gubernur yang tak perlu disebutkan namanya. Rompi tersebut adalah “tanda” bagi si pemakai. Jika sudah terkenakan, maka itu artinya yang bersangkutan dinyatakan bersalah. 

—————————–

“Dresscode” tangkapan KPK memang sudah kita paham semua. Sebuah rompi warna orange dengan tulisan pada bagian belakang “Tahanan KPK”. Sekira-kira pakaian ini paling ngeri sejagat republik ini. Sehebat apapun seseorang, kalau sudah mengenakannya maka habislah semuanya. Karir, jabatan, pangkat dan segala kemewahan sepertinya sudah tamat.

Sejarah Rompi Orange Plus Garis Hitam

Mengutip dari laman resmi KPK  (sukabumiupdate.com: 2021), transformasi baju tahanan itu bermula saat penampilan terdakwa kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom menarik perhatian media. Ia muncul ke hadapan publik dengan jaket putih berlogo KPK, dipadukan dengan ikat pinggang besar warna hitam. Di bagian bawah, nampak Miranda mengenakan rok warna hitam-putih bermotif batik, lengkap dengan sepatu hak tinggi warna hitam mengkilap.

Baca Juga:   Degradasi Moral Pendidikan Era Covid 19.

Walaupun jaket ini dibordir dengan tulisan ‘Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi’, Miranda tetap tampil modis. Padahal kebijakan agar tahanan KPK menggunakan jaket tersebut bertujuan supaya para koruptor mempunyai ciri khusus dan memberi efek malu atas perilakunya.

Awalnya rompi warna orange itu diberi satu garis hitam. Belakangan muncul pendapat harus diberi tiga garis hitam untuk menandakan bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Keputusan itu akhirnya disetujui. ‘Seragam baru’ koruptor itu kemudian dirilis pada 24 Mei 2013 saat kegiatan lokakarya media di Sukabumi, Jawa Barat.

Setelah dirilis, penggunaan rompi itu langsung diterapkan. Tersangka kasus korupsi impor daging Luthfi Hasan Ishaaq saat itu, menjadi orang pertama yang mengenakan rompi oranye tersebut saat diperiksa pada 28 Mei 2013 di Gedung KPK (kpk.go.id., 2020).

Baca Juga:   Bom dan Budaya Bunuh Diri

Mahal Tapi Terbeli, Murah Tapi Terlupakan

Rompi orange/jingga KPK adalah peringatan. Meski begitu, sengeri-ngerinya tentu seharusnya yang harus selalu diingat adalah beberapa helai kain kafan berwarna putih yang pasti akan kita semua kenakan. Jika rompi orange hanya bagi mereka si koruptor, maka kain kaci pasti akan dikenakan oleh semua manusia yang bernyawa. Inilah yang disebut dengan dresscode kematian. Jika ini sudah dikenakan, bukan hanya karir dan jabatan yang tamat, tapi seluruh kehidupan akan selesai.

Dresscode kematian sangatlah murah, tapi banyak orang yang takut, belum siap bahkan tak mau membelinya. Sementara dresscode KPK sangatlah mahal. Untuk mengenakannnya setidaknya “butuh” ratusan juta, milyar bahkan triliunan. Tapi itulah manusia, sanggup “membeli” yang mahal untuk syahwat dunia, namun tak bisa mempersiapkan pakaian kematiannya.

Baca Juga:   Selalu Ada Iblis di antara Muhammadiyah dengan NU

Hampir tiap hari kita diberi kode, namun banyak diantara kita tak peka. Kita masih saja bangga dengan pakaian yang kita miliki saat ini dengan harga mahal dan merek yang terkenal. Padahal, kita kadangkala lupa bahwa akan tiba masanya kita semua akan mengenakannya. Tak perlu takut dengan rompi orange, sebab belum tentu kita kenakan, tapi kematian niscaya akan datang menjemputmu. Jika tidak hari ini, mungkin besok atau lusa, wallaahu a’lam. Semoga apapun yang kita kenakan dan miliki saat ini tak membuat melupakan dresscode terakhir kita.

  • Bagikan