Bom dan Budaya Bunuh Diri

  • Bagikan
Prof.DR.H. Abd.Rasyid Masri.S.Ag.M.Pd.,M.Si.,M.M (Akademisi dan Pebisnis)

Oleh: Prof.DR.H. Abd.Rasyid Masri.S.Ag.M.Pd.,M.Si.,M.M
(Akademisi dan Pebisnis)

Bom bunuh diri di gereja Katedral Makassar menyita perhatian banyak tokoh bangsa dari berbagai kalangan termasuk masyarakat biasa dengan berbagai analisis mengaitkan dengan terorisme, radikalisme dan kejahatan kemanusian terlepas dari ada tidaknya pengaruh agama terhadap motif bunuh diri tersebut namun tetap seksi dan menarik ditelisik motif bunuh diri dalam analisis psikologi dan sosiologi sebagai fenomena sosial budaya.

Indonesia sekarang kasus bunuh diri termasuk cukup tinggi, bunuh diri keberanian menghilangkan nyawa sendiri, secara psikologi sosial tindakan kompleks yang boleh jadi dinilai perbuatan dungu, bodoh, pikiran sesat, dalam aspek psikologi sosial efek dari depresi, beban mental yang amat berat, kecewa dan beban hidup penuh derita, dan gangguan kejiwaan lainnya .

Baca Juga:   KOPEL Indonesia Desak Perubahan APBD 2021 Mamuju dan Majene, Ini Ulasannya

Bunuh diri bukan barang baru, budaya Jepang mengenal motif bunuh diri HARAKIRI atau seppuku bunuh diri dengan merobek perut sendiri dengan samurai atau bunuh diri KAMIKAZE menabrakkan pesawat terbang yang berisi BOM ke musuh, tindakan bunuh diri ala Jepang tersebut di kalangan mereka sangat di puji dan dinilai tindakan terhormat yakni “bunuh diri terhormat ‘ ala Jepang dan kemudian budaya nbunuh diri di Jepang terus berkembang bahkan tradisi bunuh diri di Jepang sebagian masyarakatnya dianggap cara terhormat mengakhiri hidup dan penderitaan. Termasuk masyarakat Korea Selatan menganut tradisi bunuh diri bahkan termasuk negara tertinggi di dunia dalam hal bunuh diri.

India di masa lalu memiliki budaya bunuh diri yang di beri nama SATI, tindakan uji kesetiaan pada suami, biasanya kalau suaminya duluan meninggal banyak yang tak ikhlas atau tak rela jadi JANDA sehingga ketika suaminya meninggal dan dikremasi mayatnya maka sang istri rela ikut dibakar bersama, namun sekarang pemerintah India melarang tradisi tersebut .

Baca Juga:   Kominfo Minta Platform WA dan FB Terapkan Pelindungan Data Pribadi

Untuk kasus percobaan bunuh diri di Indonesia kebayakan faktor anomali jiwa dimana kejiwaan sosial mengalami Stress , depresi dan kejiwaan abnormal lainnya.

Perilaku bunuh diri secara sosiologi efek dari keterasingan sosial, pergaulan yang terbatas, putus dari kekasih, kemiskinan yang terus menerus, gagal bayar utang , gagal jadi anggota dewan malu menanggung malu akhirnya bunuh diri dan motif motif sosial pisikologis lainnya.

Argumen paling pepuler mengungkap motif bunuh diri adalah Pernyataan FREUD di tahun 60 an bahwa setiap manusia itu memiliki instin kematian dan faktor utamanya adalah depresi menghadapi kerasnya kehidupan. Lain lagi gagasan sosiolog Emile Durkein bahwa keberanian bunuh diri bukan semata mata faktor kejiwaan tapi penyebab bunuh diri akibat faktor lingkungan dan salah pergaulan.

Baca Juga:   Seorang Pelaku Penganiayaan Terhadap Anggota TNI Di Bulukumba Tertangkap, Dua Orang Masih Buron.

Beda lagi dengan keyakinan Islam , bunuh diri sangat di larang dan di benci Allah dan termasuk dosa besar dan tempatnya jelas di neraka terlepas dari arti jihad Yg sesungguhnya.

Sehingga apapun masalah hidup dan tekanan kejiwaan dalam Islam di larang bunuh diri apalagi membunuh orang lain. Apapun masalah hidup yang menimpa kita jadikanlah Shalat dan sabar sebagai obat solusi untuk mendekatkan diri kepada sang pemberi hidup , syukuri hidup dan jadikanlah hidup bisa bermanfaat sebanyak mungkin untuk kehidupan banyak orang .wassalam .

  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks