Teori Labeling dan Ustadz Amplop

  • Bagikan
Prof.Abd.Rasyid Masri

Oleh:
Prof.Abd.Rasyid Masri
(Akademisi dan Pebisnis)

Teori Labeling mengajarkan bahwa hati hati dalam berperilaku keseharian, terutama bertutur kata, sikap , cara pikir serta kebiasaan kebiasaan buruk atau kebiasaan yang tak biasanya dilakukan oleh orang pada umumnya. Seseorang di beri gelar panggilan buruk atau alias dengan panggilan tertentu pastilah itu akibat dari reaksi masyarakat terhadap perilaku atau kebiasaan buruk seseorang yang dianggap menyimpang kemudian di berilah label atau cap atau diberi sebutan baru tertentu .

Seseorang yang bernama sebut saja si Baco atau Aco yang sering minum ballo atau tua, minuman keras, khamar dan setelah minum minuman keras tersebut selalu berperilaku mabuk maka masyarakat akan memberi cap panggilan si Aco pemabuk, dan boleh jadi ketika mabuk terus setiap saat maka nama Aco sudah hilang ‘ tapi diganti langsung panggilan si teler atau si pemabuk karena terjadi proses labeling.

Begitupun misalnya contoh dengan seorang Ustads atau yang berperilaku unik, setiap bicara dan pidato di depan masyarakat selalu melucu atau melawak. Kalau perilaku tersebut berulang – ulang dilakukan oleh pak ustads maka masyarakat tidak lagi memanggil Pak ustads tapi berproses menjadi panggilan baru dengan label baru yakni pelawak atau boleh jadi dalam perbincangan di warung kopi pak ustads sudah di panggi si pelawak atau si lucu , krn pak ustads tidak menyadari bahwa perilakunya itu jadi sorotan masyarakat, jadi buah bibir masyarakat.

Baca Juga:   BMKG: WASPADA POTENSI HUJAN LEBAT HINGGA SANGAT LEBAT DI JABODETABEK

Apalagi kalau dalam setiap ceritanya atau percakapannya pak ustads selalu menyelipkan istilah bumbu – bumbu wanita, seks atau sedikit porno maka akan jadi label baru bukan lagi panggilan pak Ustads tapi berproses jadi panggilan ustads porno.

Begitu pula bisa diperhatikan kalau ada ustads ,mubaligh atau penceramah kebiasaan menyebut amplop kalau berceramah, asal ceramah menyinggung amplop mungkin ustads niatnya mau melucu selalu sebut amplop tapi tidak semua menilai lucu, tapi ada yang menafsirkan honor, tapi karena sudah terbiasa sehingga berpotensi dapat label atau di cap sebagai ustads Amplop.

Jadi hati – hatilah dengan sikap, perilaku dan tutur kata bagi seseorang yang menjadi publik pigur, atau yang sering tampil di depan publik, terutama yang punya jabatan seperti pak Desa, pak camat, pak kepala sekolah ,pak rektor, pak kadis, atau publik pigur lainnya karena akan terus dipantau oleh orang banyak segala gerak – gerik sikap, tutur kata, pikiran dan perilakunya, hal lain tentu berbeda dengan tukang becak dan pedagan kecil di pingir jalan dan tukang becak, ngomong lucu – lucu terus cerita porno porno maka terlihat tambah asyik tertawa lepas dan tak ada beban karena dia orang merdeka dari beban amanah sorotan publik.

Baca Juga:   Refleksi Hari Jadi Kabupaten Bulukumba ke-61, Ini Harapan Ketua DPRD, Bupati Sukri Pamit Undur Diri

Jadi teori Labeling menurut Lemart adalah penyimpangan perilaku yang akibat pemberian cap atau label dari masyarakat yakni perilaku buruk atau perilaku seseorang yang di nilai oleh orang pada umumnya tidak lazim atau perilaku ucapan dan perbuatan, sikap keseharian berbeda dengan orang pada umumnya dan tak kadang pelakunya tidak menyadari.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Dr Kartini Kartono bahwa perilaku menyimpang itu dapat di nilai dan ditandai dengan adanya perilaku yang unik pada seseorang yang berbeda dari banyak orang pada umumnya ,tapi biasanya aneh klu penyakit rohani si pelaku tidak menyadari kalau kebiasaannya itu negatif atau buruk sebagai prilaku menyimpang seperti sombong, iri hati , dengki , kikir dan sebagainya. Tapi yang bisa menilai bahwa itu perilaku buruk adalah dari orang lain, pelaku perilaku buruk sendiri tak menyadari sehingga di butuhkan sahabat dan kawan yang baik mengigatkan agar kebiasaan buruk tersebut dihentikan karena masyarakat akan memberi label cap negatif sesuai pemikiran teori Labeling..demikian wassalam .

Baca Juga:   Karma Demokrasi
  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks