Karma Demokrasi

  • Bagikan
Prof. Abd. Rasyid Masri

Prof.Abd.Rasyid Masri
(Akademisi dan pebisnis)

Kena batunya, itulah kata yang sedikit pas untuk menggambarkan  kondisi suasana kebatinan yang menganggu nalar publik satu minggu  terakhir ini .

Berawal dari kritik BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa) UI mengkritik presiden Jokowi  melalui @BEMUI  Official di Twitter. Dengan memberi gelar  presiden Jokowi sebagai The King of Lip Servic. Kemudian terjadi pro dan kontra . Tapi pihak kampus UI yakni rektor UI Prof.Ari kunciro seperti kebakaran  jenggot dan segera memanggil dan mengumpulkan pengurus BEM UI dan meminta agar poster dan tulisan The King of Lip Service  di hapus, tapi pihak mahasiswa kurang setuju.
     
Motif rektor, dinilai mematikan demokrasi, menghentikan kebebasan akademik dan berekspresi di kampus sehingga terkena pepata ‘Kena Batunya’ justru posisi rektor UI jadi sorotan publik habis habisan dan menyoroti soal rangkap jabatan rektor dan wakil komisaris di salah satu BUMN dan mengungkap latar pribadi sang Rektor.
     
Kehidupan pribadi rektor jadi sasaran publik inilah saya  istilahkan  karma demokrasi . Kebebasan berekspresi di kampus itu perlu di hargai namun menurut saya tetap dalam batas etika demokrasi, kebebasan tak boleh menabrak nilai nilai sosial, nilai kemanusia dan hukum.
      
Namun nalar publik terus mengalir dari banyak kalangan  termasuk banyak anggota DPR RI menyuarakan demokratisasi dan dukungan kritik BEM UI yang terus mendapat dukungan luas bahkan mampu membangkitkan solidaritas antar  BEM se Indonesia.
       
Melihat golombang arus dukungan berbagai kalagan begitu besar terus mengalir bagai tsuname demokrasi maka pihak istana menyadari  sehingga presiden Jokowi dengan cerdas dan tangan dingin menyampaikan bahwa apa yang di sampaikan BEM UI dan mahasiswa lainnya itu biasa bagian dari ekspresi pendapat mahasiwa, dan kritik itu boleh - boleh saja ini negara demokrasi.  Itu inti dari respons sang presiden yang mendinginkan suasana.
         
Tapi karma demokrasi justru bukan ke presiden tapi berujung ke rektor UI Prof Ari Kuncoro, jadi sasaran kritikan publik’ bahkan virusnya juga sampai ke rektor unhas Makassar tersindir dan ter sorot juga rangkap jabatan walau cepat pihak UNHAS menjawab agar nalar demokrasi tidak terus membesar .
          
Karma demokrasi, karma politik dan karma agama bisa saja menimpa siapa saja maka jangan pernah melawan sunnatullah sebab berefek balik pada diri sendiri , hiduplah secara normal, jauhi pelanggaran hukum , pelanggaran nilai sosial , norma agama kalau tak mau kata pepatah “ Kena Batunya ‘ semoga Allah melindungi kita semua. Amin
Baca Juga:   Asisten II: Coaching Clinic untuk Melaksanakan Program Bupati dan Wabup 1 Periode Pemerintahan
  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks