Ikla DPRD

MASJID SANG PROFESOR

  • Bagikan

Dr. Muhammad Akil Musi (Dosen UNM/ Muballig)

Dalam suatu diskusi teras masjid, sebagai orang kampus ditanya soal hal ikhwal profesor. Apalagi setelah heboh kasus dugaan korupsi atau suap yang menimpa gubernur NA. Kita semua tahu bahwa saat kampanye Pilgub Sulsel 2018, ia mengklaim diri dalam sebuah tagline Profesor Andalan!.

Perlu diketahui, profesor itu jabatan fungsional bukan gelar akademik!.  Di kampus itu, ada empat jabatan fungsional seorang dosen yaitu asisten ahli, lektor, lektor kepala dan tentu profesor atau guru besar. Kira-kira kalau di guru ada yang disebut Guru Pertama, Muda, Madya dan Utama.

Sebagai jabatan fungsional, ia hanya dapat digunakan jika sementara menjalankan fungsi, kalau dibebaskan maka akan gugur dengan sendirinya. Berbeda dengan gelar seperti S.Pd, M.Pd dan Doktor (Dr), ia melekat pada diri seseorang sebab ia bukan jabatan fungsional, melainkan gelar akademik!.

Kembali ke soal “polemik” Profesor Andalan. Sejatinya telah gugur sejak menjadi bupati. Ingat, waktu hendak jadi bupati maka NA diberi pilihan oleh UU. Pilihannya adalah mau jadi Bupati atau tetap menjadi akademisi?. Rupanya ia memilih bupati dan menanggalkan dunia akademisi (dosen). Maka sejak saat itu sejatinya ia lebih memilih berkiprah di dunia politik.  

Baca Juga:   Bangun KKSS dengan Angka.

Jadi saat menjadi bupati selama dua periode, maka jabatan profesor sudah tak lagi melekat dalam diri NA. Ia sudah dibebaskan dari jabatan fungsionalnya berdasarkan ketentuan UU. Pilihan “Istikharah”-nya adalah dunia politik. Artinya, jika saat menjadi bupati saja sudah gugur ke-profesor-an nya, maka setelahnya tak bisa lagi digunakan, termasuk menjadi tagline dalam Pilgub 2018, 10 tahun kemudian!.

Profesor, sesungguhnya tidak boleh melekat pada nama seseorang seperti tak melekatnya asisten ahli, lektor atau lektor kepala pada diri seseorang. Masak kalau mengundang seseorang dosen misalnya di undangan pengantin ditulis begini: Yth. Bapak Lektor. Dr. Fulan Bin Fulan, M.Pd. Padahal itu masih aktif loh. Ataukah hendak maju jadi bupati ada dosen memakai tagline “Maju, ki pak Lektor Kepala”!. Lucu khan?

Artinya, seseorang yang masih aktif saja, tidak bisa dilekatkan pada namanya. Apalagi jika ia sudah dibebaskan dari jabatan fungsional. Masak sih ada guru yang maju pilkada lalu disebut “Guru Utama Andalan”. Kita pasti sakit perut mendengarnya.

Baca Juga:   Ingkar janji

So, yang bisa melekat itu gelar akademik, dan bukan jabatan fungsional akademik. Yang boleh melekat hanyalah gelar, sekalipun ia tak punya kerjaan alias menganggur. Mau gempa, petir atau banjir seorang doktor tetaplah doktor. Jika sudah dikukuhkan dalam sebuah promosi dengan segala kewenangan yang melekat, maka ia bebas menggunakan kapan dan dimana saja.

Beda dengan profesor. Jadi kalau ada kita jumpai nama jalan misalnya Prof. Fulan, itu  jelas  keliru. Masak ada orang sudah mati masih profesor. Masak sih ada gubernur yang sudah melepaskan jabatan fungsionalnya sewaktu hendak maju jadi bupati masih disebut profesor. Begitulah, kira-kira “kebenaran” penggunaan jabatan fungsional bernama Profesor.

Komprominya!, kalau masih “aktif”, yaa…mungkin “sedikit” masih mending kalau disebut Profesor, meski itu juga tak benar secara hukum. Tapi kalau sudah dibebaskan atau mundur lalu masih disebut Profesor, maka semakin jelaslah ketidakjelasannya. Kalau belum ditetapkan sebagai sebagai calon oleh KPU, mungkin masih bisa sebab saat itu yang bersangkutan memang “sedang dalam”, tapi kalau sudah terpilih berarti “sedang tidak!”.  

Baca Juga:   SEMAR YANG SUPER

Hamparan Sajadah Orang Berilmu

Terlepas dari polemik ini, hakikatnya sajadah tempat seorang profesor itu bersujud itu telah diatur dengan jelas. Tinggal memilih di mana hendak engkau hamparkan. Di kantor bupati kah?, di kantor gubernur kah?, atau tetap setia di kampus sebagai rumah yang sesungguhnya!. Asal dihamparkan dengan “syariat” yang benar dan bukan dengan cara-cara yang maksiat!. Kebenaran, kejujuran, keadilan dan kearifan, itulah sesungguhnya hamparan sajadah tempat sujudnya seorang profesor.

Ingatlah kata Rasulullah SAW, “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).

“Masjid” seorang profesor adalah laksana baitullah kehidupan untuk mengamalkan serta menyebarkan kebaikan sebab apa yang ada dalam setiap diri berupa iman, ilmu, jabatan dan gelar adalah amanah yang niscaya semuanya akan dipertanggungjawabkan. Jika tidak di kemudian hari, pasti  di hari kemudian.

  • Bagikan