Ingkar janji

  • Bagikan
Prof. H. Abd. Rasyid Masri

Prof .Dr .H.Abd.Rasyid Masri.

Janji bagi orang beriman adalah sesuatu yang sakral, ada nilai ,sarat makna yang mengisyaratkan tak boleh dilanggar , karena tidak hanya berefek dunia tapi  bersoal di akhirat . Kisah tokoh representatif awal perkembangan Islam yang pandai ingkar janji diwakili Abdullah bin Ubay,  yang dengan lihai dan pandai menyembunyikan kebenaran , mengaku Islam tapi munafik sejati, pandai berdusta demi merai cita cita hidupnya, rela berdusta demi mendapatkan pujian (pencitraan), tak peduli ada hati terluka yang penting posisi dunia diraih walau penuh pengkhianatan .
   
Prilaku ingkar janji di era modern dan lebih trendi kita saksikan saat pemilu dan Pilkada bisa dirasakan tapi tak sanggup dihindari, maka Islam memberi resep dari Allah SWT, lewat firman-Nya mengigatkan dan menyuruh kpd kaun yang beriman semua untuk lebih berhati - hati dengan para pendusta di sekitar kita, ketika datang orang fasik membawa berita (janji-janji) maka tabayunlah ( teliti dengan cermat) agar tidak meluas menimpa suatu kaum (rakyat) yang kemudian akhirnya kalian jadi menyesal atas perlakuan kalian, untuk sempurnanya buka surah al-Hujurat :6. Maka itulah sebabnya kita kalau berjanji sebaiknya ucapkan insha Allah, karena semua ketentuan akhir atas izin Allah.
   
Jangankan ikar janji pada Allah , ingkar janji pada sesama ,ingkar janji pada diri sendiripun tak dibenarkan, karena terkadang kita dengan mudahnya berjanji terutama berjanji  pada diri sendiri karena tidak ada persoalan bila kita melanggarnya mamun tetap berefek pada kesehatan mental bagi pelakunya.
   
Lebih berat bila berjanji pada sesama tapi dikemudian hari dia  khianat, berjanji akan saling membantu dan saling berpegangan tangan bila ada yang sukses dalam perjuagan tapi nyatanya setelah dia sukses” pura pura lupa dan bahkan sengaja lupa” sifat yang demikian sangatlah di benci Allah swt, dan pengingkaran terhadap janji pada kawan lambat atau cepat pastilah akan menemukan balasannya (karmanya ), karena perilaku tersebut dinilai egois dan dicatat sebagi perilaku buruk.
     
Jangan pernah membuat janji dan harapan palsu pada sesama ,karena itu akan melukai hatinya ,ibarat seseorang yang membangun cinta jangan pernah berjanji untuk mencintai seseorang kalau tak ada niat untuk menikahinya ,karena pastilah berujung penghianatan  dan dusta , dan sekali hati terluka oleh dusta kemana obat akan di cari .
       
Obat hati yang luka walau sulit di cari tapi sebenarnya ada pada diri sendiri yakni sempurnakan iman dan taqwa dalam menghadapi setiap masalah .
     
Kesempurnaan iman dan  ketakwaan bisa di raih dengan memperbaiki akhlak pada sesama, untuk terhindari prilaku buruk , ingkar janji dan dusta tetaplah berhati hati dan waspada ( wara) dalam bertindak ‘ selalu berpikir sebelum berbuat ,sehingga tidak mudah terjerumus dalam dusta dan hianat pada setiap janji , dengan kata lain mari cerdas dalam bersikap dan bijak dalam bertindak  dan tentu jangan lupa terus meminta pertolongan dan kekuatan dari Allah .swt dari segala sifat dan perilku buruk ,agar selamat dunia dan akhirat. Amiin .wslm .
Baca Juga:   Diduga PT. Semen Bosowa Maros Serobot Tanah Warga, Koalisi LSM Unras Di Polda Sulsel
  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks