Ikla DPRD

SEMAR YANG SUPER

  • Bagikan

(Refleksi “Kisah Pewayangan” SUPERSEMAR)

Oleh: Muhammad Akil Musi (Dosen UNM/Bukan Sejarawan)

Tepat 55 tahun silam yakni pada hari Jumat tanggal 11 Maret 1966, sebuah peristiwa besar terjadi yang hingga kini masih misterius. Tersebutlah sebuah “kisah” yakni Supersemar yang merupakan singkatan dari Surat Perintah Sebelas Maret.

Entah siapa yang pertama kali membuat akronim supersemar ini, kebetulan kah atau memang sebuah by design?. Tapi yang pasti, Supersemar bukanlah singkatan biasa. Apalagi istilah “semar” dalam masyarakat Jawa  dilukiskan  sebagai jelmaan dewa.

Untuk diketahui, dalam dunia pewayangan tersebutlah seorang tokoh bernama Semar. Ia bersifat ‘Nyegara’ yang artinya hatinya seluas samudera. Di mana ia dipercaya kewaskitaan-nya sedalam samudera. Tak heran, jika hanya “ksatria sejati” saja yang bisa menjadi asuhan Semar. 

Secara sederhana, Semar bermakna membangun dan “melaksanakan perintah” demi kesejahteraan manusia di muka bumi. Setidaknya kebanyakan orang tahu Semar adalah pimpinan empat sekawan ‘Punakawan’.

Punakawan bermakna kawan yang menyaksikan atau yang mengiringi. Ketiga kawan Semar adalah adalah Gareng, Petruk dan Bagong. Ketiganya disebutkan bukanlah orang lain sebab merupakan “anak buah” dari Semar.

Baca Juga:   Menteri Penerangan Era Presiden Soeharto, Harmoko Meninggal Dunia

Ajian Kesaktian Semar

Berselang sehari setelah ditandatanganinya Supersemar yakni 12 Maret 1966,   diterbitkanlah Surat Keputusan Presiden No.1/3/1966 pada tanggal 12 Maret 1966 yang dikeluarkan oleh Soeharto atas nama presiden sebagai legitimasi untuk melakukan tindakan strategis. 

Juli 1966, MPRS di bawah komando AH. Nasution, mengeluarkan Tap No. IX/MPRS/1966 berisi pengukuhan Supersemar sehingga Presiden Soekarno tidak dapat mencabutnya dan  memberikan jaminan kepada Soeharto sebagai pemegang mandat. 

Sebelumnya, Juni 1966, Soekarno “sempat” mengajukan pertanggungjawaban dalam kapasitasnya sebagai Mandataris MPRS dengan pidato yang berjudul “Nawaksara”, namun  ditolak oleh MPRS yang membuat posisinya semakin melemah.

Sebagaimana dikutip dalam Kompasiana.com, “Dikiranya SP  Sebelas Maret itu, suatu transfer of sovereignty of authority. Padahal TIDAK! SP Sebelas Maret adalah suatu perintah pengamanan…”, tegas Soekarno.

Pada akhirnya Soekarno kehilangan “kesaktian”, Supersemar tak pernah kembali kepada “pemilik”nya. Ibarat senjata pamungkas, ia telah “membumerangi” tuannya sendiri sebab hingga pada akhirnya momentum inilah yang menjadi akhir perjalanannya.

Baca Juga:   Bom dan Budaya Bunuh Diri

Padahal, tentu Soekarno pastilah tak pernah membayangkan jikalau “selembar kertas” itu akan menjadi akhir riwayatnya. Bogor, saksi bisu tempat “keramat” surat pun berarti Buitenzorg atau Sans Souci yang berarti “tanpa kekhawatiran”!.

“Punakawan” dalam Supersemar

Sejarah mencatatkan, ada “empat sekawan” yang memiliki andil yakni Soeharto “yang disaksikan” oleh tiga jenderal yang merupakan “anak buah” Soeharto yaitu Amir Machmud, M. Yusuf dan Basuki Rachmat yang kala itu sama-sama berpangkat Brigjend.

Ketiga “kawan” ini bukanlah sembarang kesatria sebab pada akhirnya menduduki jabatan “super” kala Soeharto berkuasa dimana Amir Machmud menjadi Ketua DPR/MPR, M. Yusuf sebagai Menhankam/Pangab dan Basuki Rachmat sebagai Menteri Dalam Negeri.

Yang lebih “super” lagi adalah bahwa hingga pada akhirnya, tak diperoleh keterangan dari para kesatria tersebut soal detail surat perintah yang konon “tak bertuan” dan niscaya tak akan terungkap sebab keempatnya sudah menerima “surat perintah” melalui Malaikat Israil (wafat).   

Baca Juga:   Sinergis Pentahelix Dalam Menangani Covid-19

Super sekali!. Meski hanya berbekal selembar surat perintah, namun sanggup menjelma menjadi kekuatan bernama orde baru yang bertahta sejak supersemar dikeluarkan hingga  pada akhirnya pun berakhir tepat pada hari Kamis, 21 Mei Tahun 1998.

Sesuper apapun Sang Semar, ia hanyalah ada dalam dunia pewayangan. Pada akhirnya ia akan kembali dimasukkan dalam peti oleh si dalang usai disandiwarakan dalam sebuah panggung pertunjukan. 

Sehebat apapun manusia, semua pasti akan menuju dalam peti kematian. Semua panggung sandiwara kehidupan akan berakhir. “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah”, begitu kata lirik lagu. 

Mari belajar dari setiap peristiwa. Bukan memihak atau  menghakimi sebab Allah SWT yang Maha “Dalang” Kehidupan ini tentu tak ada yang luput dari-Nya. Semoga bermanfaat, dan mohon maaf jika ulasan ini terasa tidak super sebab saya bukanlah seorang sejarawan. 

Ditulis di Makassar pada hari Kamis, 11 Maret 2021.

  • Bagikan