Webinar UNIBA, Abraham Samad: Indonesia Negara Besar Dan Kaya, Tapi Korupsinya Malah Makin Jadi

  • Bagikan
Webinar Pendidikan Anti Korupsi yang di laksanakan oleh Universitas Balikpapan

Mediumindonesia.com, Balikpapan –  Universitas Balikpapan (Uniba) menggelar webinar Nasional bertemakan “Pendidikan Anti Korupsi”, Kamis (1/4). Webinar ini di hadiri peserta kurang lebih 900. Dr Abraham Samad SH MH mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menjadi narasumber pada webinar ini, dan ini membuat peserta jadi membludak.

Abraham Samad dalam paparannya menegaskan, pendidikan anti korupsi sangat penting. Bukan hanya untuk kalangan mahasiswa, melainkan sejak tingkat PAUD hingga SMA. “Indonesia ini Negara besar, kaya akan sumber daya alam, tapi korupsi dimana-mana. Sangat ironi melihat angka kasus Korupsi yang jauh dari kata “berkurang”. Itu sebabnya, pendidikan Anti Korupsi harus diperkenalkan sejak dini,” tegas Abraham Samad.

Lebih lanjut Abraham Samad memaparkan, kejahatan korupsi mengakibatkan kemiskinan yang masif, utang Negara ke luar negeri, pengangguran hingga merusak lingkungan alam. “Semua harus punya mimpi untuk meminimalisir. Beberapa hal yang harus dilakukan yakni tindakan represif dan pencegahan,” paparnya.

Baca Juga:   Andi Utta dan Andi Edy Tegaskan, Kami Profesional Tindak Lanjuti Rekomendasi KASN.

Abraham Samad lebih jelas mengurai, motif korupsi ada dua, yaitu corruption by need (kebutuhan) dan corruption by greed (serakah rakus ). Corruption by need dalam hal ini biasa terjadi di lingkup RT, kelurahan hingga kecamatan. Biasanya dilakukan dalam kepengurusan berkas KTP, Kartu Keluarga ataupun yang lainnya. Begitupun dengan corruption by greed, konteksnya dalam hal ini merupakan para pejabat tinggi Negeri.
Memang, di masa kepemimpinannya, lembaga anti rasuah ini cukup berhasil. KPK menjerat banyak koruptor kelas kakap. Dari menteri aktif sampai jenderal polisi ‘disikat’. Di masa kepemimpinan Abraham Samad ini sektor penindakan KPK betul-betul tegas.

Catatan fenomenal ditorehkan Samad Cs waktu itu. Untuk pertama kalinya, KPK menjerat jenderal polisi aktif yakni Irjen Djoko Susilo dan Brigjen Didik Purnomo. Dua jenderal itu dijerat dalam kasus korupsi pengadaan simulator SIM di Korlantas Polri. Di kepemimpinan Samad pula, KPK menjerat seorang Ketua Umum Partai Politik.
Anas Urbaningrum yang saat itu menjadi Ketum Demokrat ditetapkan sebagai tersangka kasus Hambalang. 

Baca Juga:   Andi Sudirman Buka Musrenbang RKPD 2022, Ini Harapnya Pada Legislator Susel

Rektor Uniba, Dr. Ir. Isradi zainal, MT, MH, MM, DESS, IPU, ASEAN Eng mengunkapkan, webinar ini sangat perlu untuk dilakukan terkhusus di lingkungandi perguruan tinggi. “Indonesia sejahtera jika tidak ada korupsi. Makanya hal ini perlu menjadi perhatian semua kalangan terutama dunia pendidikan,” ungkap Isradi Zainal.

Sementara itu dia acara yang sama, Ketua Badan Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi (Yapenti) Dharma Wirawan Kalimantan Timur (DWK), Rendi Susiwo Ismail mengatakan webinar ini sangat tepat, apalagi bangsa yang besar, tapi kasus korupsinya sangat luar biasa.

Selain Abraham Samad, hadir juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum, sebagai pemateri. “Penguatan integritas perlu dilakukan di kampus. Minimal dari hal kecil, misal tidak menyontek saat ujian. Jadi harus ditanamkan pola pikir tersebut”. kata Farida.
“Sekecil apapun kekuasaan, pasti ada keinginan untuk korupsi. Begitupun dengan kekuasaan yang besar. Ini menjadi tantangan perguruan tinggi untuk menciptakan pimpinan yang berkualitas dari mahasiswa,” tutup Dr Farida. (*/Lkn)

Baca Juga:   Makmur HAPK Gelar Sosper Perda No. 5 Tahun 2019, Begini Respon Masyarakat
  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks