MUTIARA KEPEMIMPINAN

  • Bagikan
Dr. Muhammad Akil Musi (Dosen UNM,)

Aja Muluttu narekko de mu sekke panniLuttuko muappitu-pitu, rigetteng na rilollang.

(Jangan terbang sebelum sayapmu sempurna, terbang dalam harmoni, bersimfoni dalam dinamika)

Upasekko anak eppoku. Aja na engka ri nawa-nawamu maelo mapparenta, narekko majeppu  teng muappunnai sekke panni parewanna to mapparenta. Mamuare na engka manjaci pallawa lipu ri to maegae. Ancaji sulo ko ri pettakkape’e, mauni musawung sunge’mu. Engka tu pitu parewa pura na pammanarakki to riolota iyanaritu:

(Kuingin berpesan kepada anak cucuku. Jangan bermimpi menjadi seorang pemimpin jika engkau tidak memiliki sayap yang sempurna (keparipurnaan nilai kepemimpinan). Jadilah pelindung bagi rakyat  ibarat penerang dalam kegelapan meski harus mempertaruhkan nyawa. Ada Tujuh prinsip yang telah diwariskan leluhur kita yakni):       

  • Alempureng (Kejujuran)
  • Amaccangeng (Kepandaian)
  • Awariningeng (Keberanian)
  • Apasitinajang (Kepatutan)
  • Agettengeng (Ketegasan)
  • Akkalitutu (Kehati-hatian)
  • Ada tongeng (Kebenaran ucapan)
Baca Juga:   MASJID SANG PROFESOR

Takkajennekki narekko ritai ampena to mapparentata

Pangkaukeng teng narolai ati mapaccing

Paddissengeng teng narolai barakka

Pappangaja teng narolai gau

Pakkusiwiang teng na rolai teppe

Pakkalinoang teng narolai tau lao ri puange

(Tertegun kita saat menyaksikan perilaku seorang yang memerintah

Perilaku yang tidak disertai hati nurani

Pengetahuan tapi tak membawa manfaat dan keberkahan

Nasehat tak disertai dengan pembuktian

Pengabdian tapi tak disertai keyakinan

Penghidupan yang tak diikuti rasa takut kepada Allah)

Semoga nilai ini menjadi “mutiara” dalam kegersangan moral pemimpin-pemimpin-pemimpin yang kita cintai ini. Seorang pemimpin haruslah menjadi “pasak bumi” (membuat bumi menjadi tenang), “mangkubumi” (agar bumi terdiam tak menangis), “paku buwono” (memasak buana atau alam) atau mungkin “paku alam” atau “mangkualam”.

Maknanya apa?.

Baca Juga:   Sinergis Pentahelix Dalam Menangani Covid-19

Pemimpin yang baik adalah memangku dan bukan dipangku, melayani dan bukan dilayani. Mengapa bumi bergetar?, mengapa alam “mengamuk”?. Jawabnya karena para pemangkunya tidak memangku dengan baik. Bumi dan alam laksana bayi yang akan menangis dan mengamuk jika tidak dipangku dalam ketenangan, diayun dalam buaian kidung dan harmoni kepemimpinan yang indah. Pemimpin adalah “pagar alam” yang akan menjaga rakyat dari badai, bencana, musibah dan malapetaka. Pemimpin adalah “paku” yang akan mendiamkan amukan dan huru-hara sehingga suatu negeri akan tenang dan damai. Gemah ripah loh jinawi Toto tentrem kerto raharjo. Dalam suatu riwayat hadist disebutkan:

“Saat bumi diciptakan, ia bergetar. Lalu diciptalah gunung (jabal) sehingga diamlah bumi tersebut”.  

Penulis : Dr. Muhammad Akil Musi (Dosen UNM, Bukan Orang Pintar), telah menulis berbagai artikel/opini dalam media cetak/online terutama yang bernuansa agama, budaya dan pangadereng (adat).

Baca Juga:   PPKM dan Kebijakan Vaksinasi, PCR dan Rapid test bagi pelaku penerbangan domestik

  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks