Berjalan di Jalur Yang Benar

  • Bagikan

Oleh: Muhammad Akil Musi (Dosen UNM / Muballig)

Suatu ketika, saya ditanya oleh mahasiswa, “apa bedanya jalan dengan jalur”?.Tak langsung menjawab inti pertanyaannya, saya hanya memberi contoh. Kalau kita sedang mengendarai motor di Jalan, kita biasanya memilih jalur kanan atau kiri. Kalau di tol kira-kira ada yang disebut jalur lambat atau cepat. Mahasiswa menyimpulkan sementara bahwa jalur adanya di sebuah jalan, sembari mengangguk. Lebih lanjut saya menjelaskan bahwa, kehidupan ini adalah jalan pendek yang terbentang dengan kepastian ujungnya bernama kematian.

Dalam hidup ini kata saya, kita “kuasa” memilih jalur kanan atau kiri, cepat atau lambat. Contoh, ada orang untuk kaya mungkin memilih jalur yang kanan atau ada yang menempuh jalur cepat atau lambat. Di dalam memilih jalur inilah kadangkala orang berbeda keyakinan dalam menempuhnya yang disebut dengan “cara”. Cara adalah “ala” yang ditempuh seseorang disaat memilih jalur dalam jalan kehidupan ini. Mungkin pernah mendengar istilah “menghalalkan segala cara”.

Baca Juga:   DOSA YANG TERBELI !!! (Catatan Harian Jumat)

Hukum Versus Hati Nurani

Untuk menegakkan sebuah kebenaran maka mutlak dibutukan apa yang disebut dengan hukum. Meski begitu, hukum dengan segala aturan dan sanksinya “tidak selalu” terampuh dalam menentukan tegaknya sebuah kebenaran. Tentu bukan bermaksud berkompromi atau melemahkan kekuatan hukum. Tentu pernah mendengar istilah ”menempuh jalur hukum”. Hal ini menunjukkan bahwa ada juga yang disebut dengan jalur “non” hukum misalnya jalur berdamai atau kekeluargaan.

Sejatinya hukum harus selalu tegak secara normatif. Tapi ternyata sehebat-hebatnya hukum, kekuatannya bisa kalah dengan hati nurani. Mau bukti?. Suatu ketika Rasulullah SAW mendapatkan laporan pelanggaran hukum soal puasa. Singkat cerita, Rasul tidak serta merta menjatuhkan hukum berikut sanksinya. Sebaliknya Rasul memilih jalur “damai” dengan cara memberi makan kepada yang bersalah sehingga si pelaku bertaubat. Jadi sekuat-kuatnya hukum, masih ada sesuatu di atasanya bernama kearifan dan kebijaksanaan. Kebijaksanaan inilah yang kadang kala manusia salah gunakan. Sehingga produk hukum yang dilahirkan malah semakin tidak arif. Belum lagi berbicara soal keadilan dan kemanusiaan. Ini juga menjadi bagian penting dalam menerapkan hukum atas sebuah perkara.

Baca Juga:   Matematika Agama dan Logika

Diceritakan, ada seorang polisi menangkap seorang pencuri. Setelah interogasi, ternyata si pencuri mengaku sangat membutuhkan makanan untuk sekedar menyambung nafasnya. Lalu sang polisi tak membawanya ke penjara tahanan sebagai tempat yang seharusnya. Malah polisi merasa iba dan berkata,”Kadang kala, kemanusiaan harus lebih tinggi daripada sebuah hukum”. Kata kemanusiaan mengandung kebijaksanaan dan keadilan yang beradab.Inilah yang disebut dengan hati nurani yang tak pernah putus dengan kebenaran yang sesungguhnya. Hukum bisa luput dengan kebenaran, tapi hati nurani tak pernah bohong terhadap sebuah kenyataan. Hanya kebenaran Allah yang mutlak sebab ia sempurna dengan segala Kemahaan-NYA. Hukum manusia bisa berdimensi “kebetulan” dan bukan kebenaran. Bukti kasus?. Saya dengan teman mengendarai mobil ketika melintasi sebuah pemeriksaan polisi. Teman saya ditilang karena tidak membawa SIM. Lalu saya dengan percaya diri dapat terbebas dari pemeriksaan polisi padahal bukan hanya SIM tapi STNK pun tak bawa. Kesalahan saya sejatinya lebih besar, tapi begitulah hukum manusia yang masih mengenal kata “luput”.

Baca Juga:   ‘Antropobiologi AUD’ Ditulis Dosen UNM, Satu-satunya di Indonesia

Hukum Allah?.

“Kebaikan dan keburukan akan mendapatkan balasan meski hanya seberat biji sawi”. Berjalanlah di jalur yang benar, sebab di sisi Allah SWT pasti tak ada yang luput. Jika manusia saja bisa adil dan beradab di balik kelemahan kemanusiannya. Tidak usah membayangkan betapa Maha Adil dan Maha Bijaksana-Nya Allah dalam Ketuhanan-Nya. Jika manusia saja punya hati Nurani, mau bandingkan dengan Maha Rahman dan Maha Rahim-Nya Allah SWT?. Subhanallah.

  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks