Mediumindonesia.com, Pangkep _ Meski harus mendaki dan menuruni gunung selama empat jam, semua itu tak menyurutkan asa guru honorer di Kampung Bung Kelurahan Bontoa Kecamatan Minasa Tene (Misten) Kabupaten Pangkep.
Abdul Asis, seorang guru honorer Sekolah Dasar menuturkan bahwa aktivitas yang ia jalani sudah berlangsung beberapa tahun dan semua ini menjadi bagian romantika kehidupam.
“Sudah lama ini pak, saya harus menaiki dan turun gunu demi mendapatkan jam mengajar. Empat jam menyusuri gunung, bagi saya sudah bisa,”cerita kisah pak Asis, sebagai tenaga sukarela, dan pendapatan tentu tidaklah memadai.
Sementara itu, Patahuddin yang mengelola lembaga PAUD di Kampung Bung juga mengisahkan tentang sulitnya akses menuju ke sekolahnya. Bahkan ia pernah terjatuh akibat kondisi jalanan yang licin dan berbatu.
“Saya sudah pernah jatuh, saya kira waktu itu tangan saya patah akibat begitu kerasnya benturan yang saya alami,” katanya
Patahuddin menceritakakan kisahnya bahwa dia mengaku harus menyusuri gunung demi mencari anak-anak yang sedianya akan dibina lembaga PAUD.
“Saya berjalan hingga beberapa kilo, mencari anak-anak kita yang seharusnya dididik di lembaga PAUD”, tuturnya.
Tidak hanya itu, kisah pilu sulitnya akses menuju sekolah juga dirasakan oleh sejumlah Guru SMP yang notebene perempuan. Ia mengaku letih dan capek, meski begitu semua harus dijalani demi mendapatkan jam mengajar.
“Capek tentu capek, tapi apa hendak dikata, semua demi memperoleh jam mengajar. Apalagi di kota, kami tentu sulit bersaing”, kata salah seorang guru SMP yang dibenarkan oleh rekan-rekannya.
“Mungkin guru SMP lain Cuma membawa pulpen atau tas, tapi kami di sini justru membawa tongkat sebagai teman menyusuri gunung”, tambahnya.
Tidak hanya itu, kondisi sekolah baik lembaga PAUD hingga SMA tentu belum layak. Hal ini logis sebab akses jalan yang sulit pun akan mempengaruhi roda pembangunan termasuk pembangunan fasilitas dan insfrastruktur. Kondisi sekolah seperti PAUD, SD SMP hingga SMA tentu belumlah memadai. Meski begitu, semangat anak-anak patut diacungi jempol sebab masih menunjukkan semangat untuk menimba ilmu.
“Semangat bersekolah tak boleh surut, sebab kami akan semakin tertinggal kalau tidak berusaha sebagaimana anak-anak yang lain di kota”, ujar salah seorang siswa SMA yang enggan disebutkan namanya.
Menanggapi kondisi ini, terutama sulitnya akses jalan mengundang perhatian salah seorang akademisi dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr. Muhammad Akil Musi yang turun langsung ke lokasi.
Menurut Akil yang juga Pakar PAUD, pemerintah perlu memikirkan terutama akses jalan sebagai langkah awal dalam memajukan pendidikan di kampung Bung.
“Saya kira, yang pertama kali harus menjadi PR pemerintah adalah membuka akses jalan dulu, jika tidak maka akses yang lain tentu akan sulit”, katanya.
Lebih lanjut Akil berharap kiranya pemerintah memperhatikan nasib guru honorer sebab ia menjadi bagian dari pembangunan pendidikan.
“Kasihan kan guru honorer, berjuang setengah mati padahal kita tahu kalau kesejahteraan mereka pun tidak memadai,” papar Akil.
Sebagai catatan, Kampong Bung terletak di Kelurahan Bontoa Kecamatan Minasa Te’ne Kabupaten Pangkep. Tidak hanya akses jalan yang sulit, pun penerangan listrik serta fasilitas air bersih juga masih sulir sehingga ada yang menyebutnya sebagai perkampungan yang terisolir.





