Sebuah darai ketiga batu itu berbentuk angsa yang sedang menengadah ke langit. Dua batu lain tersusun dalam bentuk sebuah lingga-yoni (phallus cultus), sebagai lambang kekuasaan.
Upacara sehari semalam itu diramaikan dengan tari Ma’bugi, Manimbong, Ma’dandan dan Ma’gellu’. Sepanjang semalam Tominaa menyanyikan hymne Passomba Tedong dan menceritakan kisah Puang Sawerigading yang diwariskan turun temurun.
Versi Sa’dan-Balusu menyebut Puang Tenriabeng dengan suaminya bernama Puang Ramman di Langi’ dan anaknya Puang Bua Lolo yang pergi ke Ware’ perlu dijelaskan menurut dua versi yakni, versi Luwu dan versi Sulawesi Tenggara.
We Tenriabeng Bissu di Langi’ menurut buku I La Galigo adalah saudara kembar Sawerigading dan memerintah di kerajaan langi’ (langit), yang sudah tentu harus diartikan secara Figurlijk dan simbolis.
Menurut Kosmogoni Sulawesi Selatan bahwa, dunia terbagi atas: dunia atas (langit), dunia bawah (urikliu) dan dunia tengah (peretiwi). Rumpun keluarga dibagi atas tiga kelompok: langit, dunia bawah dan dunia tengah.






