Sawerigading Na Pindakati, Luwu Toraja Sulit Dipisahkan

  • Bagikan
Menurut Prof. Dr. C. Salombe dalam makalahnya pada loka karya Sawerigading di Palu pada tahun 1987, bahwa di Toraja

Menurut Salombe (1987) bahwa, hal yang paling menarik dari tradisi Toma’ Ada’ Sawerigading tersebut adalah upacara Ma’bulu’ Pare, yaitu upacara mengelu-elukan buah padi, bila tanaman padi itu sedang menghijau dan siap mengeluarkan buahnya.

Upacara tersebut adalah upacara syukuran yang secara teratur dilakukan oleh orang-orang yang masih memeluk agama leluhur yang disebut aluk todolo.

Pengurus Wilayah Persatuan Olahraga Domino Indonesia Sulawesi Selatan

Di daerah Rantepao (kini Toraja Utara) upacara itu disebut ‘Menammu’. Upacara Ma’bulu’ Pare berbentuk sebuah pesta Merok Sangbongi, yaitu upacara syukuran sehari semalam dengan mengorbankan seekor kerbau, dua ekor babi dan ayam jantan berbulu merah (manuk Sella’).

Dalam upacara itu enam buah batu keramat Puang Paarranan penjelmaan Puang Pindakati, diturunkan dari bangunan berbentuk lumbung lalu dimandikan dan diberi pakaian baru.

Pesung, persembahan, diletakkan oleh petugas upacara yang disebut To Parengnge’, penanggung jawab di depan pintu bangunan dan di depan tiga buah batu yang terletak di pelataran bangunan sebelah timur.

  • Bagikan

advertisement