Puang Paarranan adalah permaisuri Puang Sawerigading yang pertama (conform buku I La Galigo), yaitu, seorang dari beberapa saudara sepupunya yang dijadikan permaisuri.
Permaisuri Sawerigading (Pindakati) menjadi batu keramat dan tersimpan pada sebuah bangunan berbentuk lumbung di Puncak sebuah bukit kecil di kaki bukit Kandora.
Itulah sebabnya tampuk pimpinan desa (lembang) Kandora sejak dulu berada di tangan anak cucu Puang Jamallomo, anak Puang Sawerigading bersama dengan Puang Pindakati, yang kemudian diberi gelar Puang Paarranan, setelah menjadi batu keramat.
Dulu bila orang Toraja bergelar Puang menginjakkan kaki di daerah Kandora, mereka harus menanggalkan sepatu dan topinya.
Juga ia harus turun dan kudanya dan berjalan kaki. Selama puang berada di daerah itu, maka ia tidak boleh memakai gelar Puang dan ia harus tunduk kepada satu-satunya penguasa, yaitu Puang Paarranan.






