Mediumindonesia.com, Pemalang - Sejumlah petani mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Hal tersebut dinilai menambah permasalahan baru bagi para petani, Mereka terpaksa menaikan ongkos bertaninya untuk menjaga tanaman padi tetap subur.
Akibat kelangkaan jatah pupuk bersubsidi yang ditetapkan Pemerintah, para petani dengan terpaksa mensisiasati dengan mengurangi Jadwal pemupukan bagi tanamanya.
Salah satu Petani padi di Desa Taman, Kecamatan Taman, Pemalang, Ramidi (53) mengaku saat ini tengah kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi jenis Urea dan NPK Phonska.
“Betul mas disini lagi susah mendapatkan pupuk, walaupun pakai kartu Tani tapi dari Distributor agak sulit,” ungkapnya saat ditemui Mediumindonesia.com, Sabtu (25/6/2022) kemarin.
Ramidi sendiri hanya mendapatkan jatah 33 kilogram pupuk subsidi, seharga Rp83 ribu untuk 2.500 meter persegi atau seperempat hektar sawahnya, jatah itu jauh dari kebutuhan pupuk normal .
“Normalnya seperempat hektar diberi pemupukan 1 kwintal. Ini terpaksa kami beli pupuk Non subsidi yang harganya jauh lebih tinggi, kalau merk MKP Rp125 ribu per 25 kilogram,” sebutnya.
Sementara kata Ramidi, dalam sekali tanam normalnya padi perlu dipupuk sebanyak 3 kali dalam waktu 90 hari.
Namun imbas dari kelangkaan dan minimnya jatah pupuk subsidi. Dirinya terpaksa hanya memupuk 2 kali dalam waktu 90 hari.
Dirinya mengakui tak masalah jika Pemerintah mencabut pupuk bersubsidi namun dirinya berharap agar harga pupuk nantinya tetap stabil .
“Kalau subsidi pupuk dicabut harus diimbangi dengan harga gabah biar kaya dulu waktu sebelum krisis moneter,” pintanya .


