Mediumindonesia.com, Makassar - Mengapa pemakaian sandal jepit di “syariatkan” ketika berkendara terutama naik motor?. Tampak sepele dan sepertinya banyak yg reseh.
Perlu diingat sebuah pemaksaan awalnya aneh, namun lambat laun akan jadi habit. Sama kira-kira pemakaian masker. Jika tidak dipaksakan dari awal maka akan sulit kita melakukan pembiasaan. Shalat juga dulu begitu, jadi tidak perlu reseh sebab memang tingkat kesadaran manusia terhadap hukum/aturan/syar’i itu beda-beda. So, ide larangan pemakaian sandal adalah sesuatu positif.
Sekedar berbagi pengalaman, saya pernah mengalami kecelakaan kecil ketika mengendarai motor. Singkat cerita, andai saat itu saya pakai sandal maka tak bisa dibayangkan kondisi kaki saya. Saat itu sepatu yang saya pakai sempat robek. Itupun saya bawa sakitnya hingga bulanan dan terpaksa saya pensiun main bulutangkis.
Begitu juga ketika kita standar motor, sangat bahaya jika bagian kaki atas tak tertutup sebab kadangkala motor tiba-tiba bergerak dan menekan kaki bagian atas. Dan tentu banyak resiko lain jika tidak menggunakan penutup kaki yg memadai.
Jadi sebenarnya meski tak disyariatkan, seharusnya kita harus membiasakan menggunakan penutup kaki (sepatu atau sandal kulit tutup bagian atas) ketika mengendarai motor.
Kok harus di ‘wajibkan”?
Halooo…yang diwajibkan saja kita biasa lalai. Bagaimana kalau nggak diatur. Itulah sebabnya banyak perkara yg seharusnya diatur tapi Karena tidak diatur akhirnya menjadi masalah dalam kehidupan.
Bukan hanya positif thinking, tapi lebih dari itu laksanakan saja. Bukan soal sandal jepit, tapi ini lebih dari soal keamanan (safety). Lalu mengapa sensitif?. Karena kita menggunakan rasa menanggapi dan bukan pakai rasio. Sandal jepit itu identitas orang kecil dan kemiskinan sehingga kita merasa aturan ini mengebiri kaum lemah. Ini yang membuat ide sandal jepit menjadi gaduh.
Well, untuk kebijakan sandal jepit ini saya sangat setuju padahal saya termasuk orang yang tak gampang-gampang amat untuk menyetujui sesuatu yang dianggap rasa aneh oleh banyak orang. Bahwa ada pergolakan setiap kebijakan tentu wajar sebab ini menunjukkan kita adalah manusia dan masih hidup di dunia, bukan malaikat yang tenang di langit.








