Jacob Ereste : Puisi Lirik Dimusim Hujan dan Pandemi 2021

  • Bagikan
Jacob Ereste

Banten, mediumindonesia.com –

Kebahagiaan itu ternyata sungguh sangat amat sederhana, kalau mau dibuat gampang. Tetapi akan sangat sulit jika terlau banyak maunya, hingga ujungnya pun bisa jadi ribet. Maka itu akan sangat tergantung pada cara setiap orang memahami dan menikmati segala sesuatu yang ada pada diri kita.

Kesaksian dari seorang kawan dia mengaku selalu merasa bersyukur ketika lapar tapi tidak punya uang hanya untuk membeli makanan kesukaannya. Sebab ada kawan lain yang bisa membeli semua makanan yang dia kehendaki, tapi tidak boleh dia makan, sebab hagi dirinya akan sangat berbahaya untuk kesehatan jika makanan lezat itu dia gasak juga.

Jadi bisa segera dibayangkan, ketika ada acara makan bersama keluarga ala prasmanan, semua jenis makanan yang sudah tersaji rapi dan siap untuk disantap itu, seperti sedang mengolok-olok dirinya. Sebab untuk kawan ini hampir semua makanan dan minuman yang terhidang itu tak boleh dia gasak seenak perutnya sendiri.

Begitulah sedih hatinya ditengah kelimpahan yang tak bisa dinikmati sedikitpun. Jadi nasib malang pun bisa terjadi dari meja makan. Hal serupa ini juga terjadi pada saat lainnya. Bedanya hanya karena ada pasal lain yang tak memenuhi syarat. Bukan juga ada yang melarang, tetapi orang tersebut sudah tidak bisa menikmatinya. Jadi pengertian tak bisa itu pun berbeda dengan tidak boleh atau dilarang. Seperti yang juga terjadi pada kawan yang lain. Ada banyak makanan dan minuman atau bahkan semua bisa dia lahap, tapi masalahnya dia sudah tidak mempu untuk melahapnya, karena giginya telah tumbang. Copot habis dan belum sempat direperasi dengan gigi palsu. Hingga untuk sekedar mengunyah telor dadar saja sudah tidak lagi bisa diajak balap. Tapi, toh dia tetap enjoy, menimati apa saja yang lebut-lembut saja yang dia lumat. Selebihnya dia pastahkan saja untuk digasak oleh orang lain.

Baca Juga:   Peran Perguruan Tinggi Dalam Sinergi-nHelix untuk Indonesia unggul dan Inovatif

Dengan penuh legowo pun dia tidak pernah merasa menyesal nasibnya yang terkesan malang itu. Karena sepanjang usianya yang kini sudah menyundul angka tujupuluh tahun, sungguh sudah capek mengunyah semua makanan yang mungkin tak banyak bisa dinikmati oleh semua orang. Sebab semasa petualannya ke seantero jagat, semacam imbalan rasa capek dirinya dia konversi dengan beragam macam makan maupun minuman khas dari daerah yang dikunjunginya. Sekedar contoh, mulai dari jambu klutuk yang masih keras dan belum matang, sudah dia grogot seperti buah kedondong. Apalagi sekedar spotaker, roti kering atau roti sagu khas negeri kita dari bagian timur itu.

Kisah makan dan minum ini perlu diceritakan bukan sekedar untuk menghibur diri di rumah biar bisa mengimbangi PSBB atau apalah istilah lain yang telah sangat membosankan akibat ancaman pandemi Corona. Tetapi lebih dari itu juga ingin ikut mengingatkan, sesungguhnya rasa syukur itu juga penting guna mengatasi rasa stress ketika sulit untuk berpergian serta harus selalu menjaga jarak, termasuk pada anak, istri dan cucu sendiri saat berada di rumah. Tentu saja tidak kalah penting menuliskan apa saja yang dapat bermanfaat buat diri sendiri serta lebih ideal lagi bagi orang lain pula. Adapun sarana yang termurah adalah media sosial. Meski untuk menggunakannya harus dan patut dilakukan dengan ekstra hati-hati. Sebab tak sedikit pun boleh ikut tergelincir.

Baca Juga:   SEMAR YANG SUPER

Lebih dari itu sebetulnya yang hendak diuraikan dalam tulisan ini ialah rasa syukur dari manfaat media sosial yang mampu kita digunakan secara maksimal untuk berbagi. Entah itu cuma sekedar keluh kesah atau pengalaman spiritual pribadi yang mungkin pula ada manfaat untuk diketahui oleh pembaca lain. Yang pasti, dari paparan tulisan ini adanya hasrat untuk bisa lebih banyak belajar menguji kejujuran diri sendiri. Apakah sungguh realitas hidup sudah bisa diterima dengan enteng, tanpa beban, apalagi penyesalan yang acap menggoda, mengganggu kenyamanan, hingga untuk menikmati sisa umur yang tidak pernah dapat dipastikan oleh siapapun, kapan titik akhirnya bisa lebih banyak mendarangkan manfaat tidak cuma untuk diri sendiri.

Baca Juga:   Degradasi Moral Pendidikan Era Covid 19.

Sebagai puisi lirik yang kutemukan ditengah hujan di perjalanan pulang menuju rumah, naskah aslinya sungguh tidak terlaku banyak berubah dari narasinya yang asli. Meski tidak seluruhnya persis seperti tertulis diatas. Namun sekedar identitas serta lengkap pentanggalannya saja yang perlu ditambah, supaya para pembaca yang budiman tak sampai tersesat memahaminya.

Banten, 4 Februari 2021

  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks