Daerah  

Pj Gubernur Bersama Pimpinan OJK Launching Program EKI di Desa Lembanna

Launching Program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) OJK Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), dilaksanakan di Villa Pajokka
Launching Program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) OJK Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), dilaksanakan di Villa Pajokka (Dok.Ist)

Mediumindonesia.com, Bulukumba – Launching Program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) OJK Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), dilaksanakan di Villa Pajokka, Pantai Mandala Ria, Desa Lembanna, Kabupaten Bulukumba, Jumat, 24 November 2023.

Penjabat Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin, Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Derivatif dan Bursa Karbon OJK RI Inarno Djajadi, serta Ketua OJK Sulampua Darwisman secara bersama melauching secara simbolis program EKI, dengan memutar kemudi kapal Pinisi ke kanan.

Launching program EKI merupakan upaya langkah progresif untuk meningkatkan akses keuangan masyarakat, khususnya di perdesaan. Program ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Melalui program ini, dilakukan pendampingan mulai dari pra-inkubasi, inkubasi dan pasca-inkubasi.

Program ini juga akan mengoptimalkan potensi yang ada di perdesaan yaitu potensi alam, budaya, sosial, dan finansial, dengan ketersediaan akses keuangan dari berbagai sektor jasa keuangan seperti perbankan, asuransi dan pasar modal.

Pj Gubernur Bahtiar mengatakan, bersama OJK melakukan sinergi termasuk bagaimana masyarakat bisa mendapatkan akses layanan keuangan, hingga pada program ketahanan pangan. Bahkan, Kepala OJK Sulampua menjadi Ketua Satgas Pisang Sulsel membangun ekosistem budidaya pisang di Sulsel, mengikhtiarkan menanam satu miliar pohon pisang pada lahan terlantar 500 ribu hektar selama satu tahun ke depan.

“Ekosistem ekonominya sedang kami bangun, banyak pihak kami libatkan, termasuk dunia perbankan,” kata Bahtiar.

Adapun untuk Desa Lembanna, perlu dibangun budaya wisata, termasuk mengajak dunia kampus untuk membuat karya tentang desa ini secara ilmiah. Baik kelebihan dan nilainya. Termasuk kapal Pinisi yang melegenda.

Bahtiar memiliki harapan agar warga di desa wisata ini mengerti dan bisa berbahasa Inggris sehingga perlu dididik dan dilatih.

“Kita lihat kekuatan Bali, siapa pun orang di sana, masyarakatnya bisa menjelaskan tentang Bali, dari hulu ke hilir, alamnya, budayanya, manusia dan kebudayaannya. Nah itu harus diedukasi seperti itu, terutama kemampuan bahasa, karena wisatawan termasuk mancanegara suka daerah seperti ini,” ungkapnya.

Adapun wilayah ini perlu didorong menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bira-Takabonerate, karena sebuah daerah akan menjadi hebat ketika sudah ditetapkan KEK.

“Maka akan banyak program yang masuk. Baik sarana prasarana pendukungnya oleh pemerintah, listrik, air, pelabuhan, jalan dan lainnya untuk mendukung sistem perekonomian tersebut,” jelasnya.