Ikla DPRD

Pengusaha Warkop di Soppeng Mohon Bantuan dan Keadilan

  • Bagikan
Pertemuan Persatuan pemilik warkop dikantor LBH Cita Keadilan

Mediumindonesia.com, Soppeng – Para pengusaha warung kopi (Kape) akhirnya protes dan mohon bantuan sebagai respon atas perlakuan yang kurang manusiawi dari tim tugas Covid 19 Kabupaten Soppeng yang melakukan razia pada hari Rabu tanggal 20 Januari 2021 sekitar pukul 22.15 malam.

Para pengusaha warkop yang terdampak langsung membentuk forum persaudaraan pemilik warkop (coffe) dan kuliner kemudian membuat pernyataan sikap yang nantinya akan dibawah ke DPRD dan lembaga terkait lainnya sebagi bentuk protes kerasnya atas peristiwa tersebut.

Pertemuan yang mendadak tersebut dilaksanakan di Kantor Lembaga Bantuan Hukum Cita Keadilan Sul di Jl. Salotungo.

Hadir pada pertemuan adalah
1. E.  Pemilik warkop Bahagia
2. V.  Sinar Bahagia
3. M. Pemilik Warkop sedap
4. L. Pemilik warkop Prima
5. Y. Pemilik warkop Famili
6. B.T pemilik Warkop 63
7. I S Mima.kitchen dan coffe
8. H. H. La Daffa cafe
9. Sl. Warkop Asia
10. H. A. The Drop
11. Sumiati Tahir Cape.Keadilan

Baca Juga:   Bupati Luwu Utara, Tunjuk Muhtar Jaya sebagai Plt Kabag ULP: Ditanggapi Kepala BKPSDM

Sementara pemilik kape Fitri (Sukman) dan Idolf menyampaikan  ketidak hadiran nya karena sedang ada acara.
Bahwa selain karena alasan peristiwa razia  yang disebut oleh perempuan E sebagai penggelandangan dan oleh perempuan V dicap sebagai perbuatan tidak manusiawi, para peserta pertemuan tersebut lebih banyak mempersoalkan dampak dari usaha mereka kedepan. Menurut nya, Pembatasan pada jilid pertama saja kami merugi, nanti pas bulan November Desember kami mulai bangkit, namun tiba-tiba pertengahan Januari satuan tugas penanganan  Covid 19 Kembali mengeluarkan SE jilid II.

Kami pastikan akan lebih berdampak pada jilid kedua ini, karena sangat ketat dan kaku kata perempuan L, karena  tamu kita  diwajibkan bungkus baru pulang, tidak boleh duduk, padahal mereka datang rata rata tamu rutin dan hanya mau bertemu dengan teman mereka.

Sementara pemilik Warkop yang lainnya angkat bicara jika mereka (tamu kita) datang bukan sekadar  duduk saja, tapi mereka tamu bicara bisnis.

Dalam pertemuan tersebut diangkat pula adanya perlakuan diskriminatif, kenapa cuma kami, kenapa yang disana tidak, besok nya kami tutup lagi tapi kenapa disana buka, tanpa menyebut yang dimaksud.
Perempuan V yang merupakan korban, merasa dikriminalisasi mulai proses penjemputan sampai proses penggelandangan terus melakukan keberatan, terutama yang dikeberatankan pada saat dipaksa menandatangani form pernyataan bersalah yang menurutnya, perlu dulu ditunjukkan dimana kesalahannya, menurutnya yang bikin kami shook dan stress ketika disuruh hubungi keluarga ambil pakaian dibawa ke posko Covid tempat dimana dia diinterogasi, dan besoknya mereka betul-betul diswab, menurutnya apa hubungannya pelanggaran jam buka warkop tiba tiba kami harus di swab, kalaupun kami mau diswab mestinya kami diberi kesempatan pulang dulu ke rumah tidur nyenyak biar kami tetap sehat baru swab, malah kami dibiarkan tidak bisa tidur stres baru awal, ada apa pungkas perempuan V.

Baca Juga:   Lepas Sambut Pangdam XIV Hasanuddin, Ini Disampaikan Plt Gubernur Sulsel

Sementara perempuan E yang juga protes keras karena mengaku tidak memiliki kesalahan, dia menuturkan “saya antar Bapak saya barusan dari beli obat karena sakit, saya malah membuntuti mobil patroli sampai masuk ke tempat saya, di warkop kami sudah tutup, tidak ada aktifitas namun kami tetap dibawah juga ke posko dekat taman kalong dengan alasan mau mendapatkan pengarahan, namun yang hadapi kami secara bergantian, sehingga mereka tidak saling mengetahui alur ceritanya sehingga kami juga jadi korban yang sama sekali tidak melanggar Surat Edaran itu.

ABDUL RASYID, yang bertindak sebagai pemandu pertemuan meminta kepada peserta, apa yang menjadi sasaran atau tujuan akan dicapai. Dari pertemuan tersebut disimpulkan 4 hal yang akan disampaikan ke DPRD dan lembaga terkait lainnya melalui cara dan sarana yang tepat.
Adapun Point penting menjadi harapan peserta adalah
– menganulir SE Nomor 03/Satgas-Covid-19/I/21
– Memberikan kelonggaran dengan tetap memperhatikan 3.M
Рmemberikan pembatasan jumlah  kursi, jumlah orang dan jaga jarak.

Baca Juga:   Polisi Datangi Rumah Pengibar Bendara Palestina Jelang HUT RI ke-76

Para peserta berharap perwakilan mereka bisa diterima oleh DPRD Soppeng hari ini kata Abdul Rasyid owners Cafe Keadilan.

  • Bagikan