Ikla DPRD

Karangan Bunga di Rujab Gubernur Sulsel. Pengamat: Jangan Lawan KPK, Mustahil Bebas.

  • Bagikan

Makassar, mediumindonesia.com – Selang beberapa hari setelah penetapan Nurdin Abdullah (NA) sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi proyek infrastruktur, rumah dinasnya di Jalan Jenderal Sudirman Makassar, tampak dipenuhi karangan bunga. 

Sejumlah karangan bunga yang berisi dukungan untuk gubernur non aktif itu berdatangan mulai Rabu (3/3).  Deretan karangan bunga itu pun menarik perhatian para pengguna jalan yang melintas berdasarkan pantauan mediumindonesia.com, Jumat (5/3).

Pihak pengirim dari berbagai lapisan masyarakat Sulsel tampaknya turut prihatin atas penangkapan terhadap mantan Bupati Bantaeng dua periode tersebut. Tidak hanya berasal dari warga Kota Makassar, ada juga datang dari daerah lain di Sulsel.

Baca Juga:   TNI Satgas Pamtas Yonif 131/Brs Gagalkan Penyeludupan Ratusan Miras Ilegal Dari PNG ke Papua

Terlihat ada bermacam-macam ucapan kalimat dukungan yang lucu dan unik di karangan bunga tersebut. Salah satunya dari pengirim yang mengaku patah hati serta berbagai ucapan yang intinya memberikan dukungan kepada NA.

“Karena Bapak saya betah di Sulsel. Kalau Bapak tidak ada, saya pindah ke Mars. Kami yang patah hati karena ditinggal saat Sayang-sayangnya”, isi tulisan salah satu karangan bunga tersebut. Meski begitu, tak tampak identitas pengirimnya.

Menanggapi hal tersebut, pengamat hukum asal Univesitas Bosowa Makassar Prof. Dr. Marwan Mas sebagaimana  dikutip pada Smartcitymakassar.com mengatakan KPK tidak dapat diintervensi dalam bentuk apapun. Menurut Marwan, lembaga antirasuah itu memiliki bukti dan punya dasar yang kuat.

Baca Juga:   Kantongi Identitas Tersangka, Polisi Kejar Pelaku Pembunuhan Kadus di Bulukumba

“Saya kira pemberian karangan bunga itu keliru. Jangan dilawan (KPK). Tunggu saja hasil pemeriksaan. KPK tidak sembarangan menunjuk orang sebagai tersangka. Pasti alat buktinya sudah jelas, contohnya sampai saat ini belum ada yang pernah diputus bebas”, tegasnya.

Sementara itu, pengamat Hukum dari Universitas Hasanuddin, Fajlurrahma Manjurdi mengatakan, jika kelompok yang mengirim karangan bunga berupaya untuk membangun opini di media sosial agar NA bisa segera dibebaskan, hal tersebut merupakan sesuatu yang mustahil (**Kmr).

  • Bagikan