Bukan Suara Hati Honorer

  • Bagikan

Oleh: Dr. Muhammad Akil Musi (Muballig / Dosen Universitas Negeri Makassar)

Realitas Hervina hanya mewakili
Itu baru satu serial cuplik
Suara-suara guru honorer
Agar semua membuka mata dan hati,
Atau mungkin semacam pesan singkat
Agar kita mau mengklik galeri potret mereka
Yang penuh warna warni
Yang sarat lika liku

Cerita suramnya guru honorer, bukan barang baru
Hervina hanyalah ibarat pasword
Untuk meretas akun tersembunyi
Agar kita mau menyaksikan kisahnya
Serta merasakan kekuatan horornya

Padahal ketahuilah…
Boleh jadi masih banyak yang lebih miris dari itu
Yang mungkin sakitnya tuh tidak hanya di sini
Boleh jadi di sana juga sakit
Bahkan dimana-mana
Hanya saja tak terungkap

Baca Juga:   Ingkar janji

Hervina 16 tahun?
Asal tahu saja
Mungkin banyak yang sudah berpuluh-puluh tahun
Tak cukup helai kalender untuk menghitungnya
Selama itu bermandikan peluh
Berteteskan keringat

Hervina atau yang lain
mungkin tidak bermaksud pamer pendapatan
Ia hanya sekedar berpendapat
Sebab tak cukup helai kertas menulis pedihnya
Tak cukup tinta untuk menggoreskan lukanya
Mungkin…
kering sudah air matanya
Telah letih mereka mau mengadu kemana
Habis sudah energi hanya untuk mengeluh

Guru Honorer,
Mungkin tak lagi mencari uang
Atau mengisi waktu luang
Sebab di hati mereka hanya satu
Yakni mencari sebuah ruang
Bernama Ruang Kelas pengabdian dan dedikasi
Ntuk mendapatkan “ruang” kasih sayang-Nya

Kini semua seperti kayak kaget
Padahal ini hanyalah “sebahagian” kisah
Sebab selama ini hanya menoleh sekilas
Tak pernah menyaksikan hingga akhir
Sebuah serial Sinetron
Yang pasti bukan berjudul
SUARA HATI HONORER
Sebab endingnya tak selalu bahagia !

Baca Juga:   Tulisan Tangan Hervina, Tulisan Takdir Allah
  • Bagikan

advertisement
Terima Update Berita    OK No thanks